Semasa penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945), timbul perpecahan di dalam tubuh GKJW yang disebabkan oleh proses politik dari praktek kolonial Jepang. GKJW mendapat sorotan saat itu karena dipandang sebagai kelompok orang Jawa dengan afiliasi ke Belanda.
Sejumlah jemaat Kristen Jawa mengalami kesulitan untuk beribadah dan setelah penyiksaan terhadap sejumlah orang Cina dan Kristen di Keresidenan Besuki, muncul desakan dari sejumlah tokoh Kristen Jawa untuk mencari perlindungan kepada Pemerintah Jajahan Jepang di Indonesia.
Pada tahun 1943 berdiri Raad Pasamuwan Kristen (RPK) di Jawa Timur untuk memenuhi maksud tersebut. Terjadi dualisme, karena baik RPK maupun MA GKJW sama-sama memiliki pengikut di sejumlah jemaat Kristen Jawa Timur.
Dualisme ini tidak berkepanjangan, karena tokoh-tokoh Kristen Jawa banyak ditangkap menjelang akhir Perang Dunia ke II, antara lain: Pdt. Driyo Mestoko, Pdt. Tasdik, DR. B.M. Schuurman, Yeruboham Mattheus dan lain-lain. Akibatnya baik RPK maupun MA GKJW sama-sama berada dalam keadaan vakum hingga Jepang akhirnya menyerah 14 Agustus 1945.
Melalui Persidangan MA GKJW di Jemaat Mojowarno, tanggal 4-6 Agustus 1946 dilakukan rekonsiliasi untuk mempertemukan kedua kubu yang pernah sama-sama memimpin umat Kristen Jawa Timur. Rekonsiliasi tadi ditandai sebuah ibadah perjamuan kudus pada tanggal 5 Agustus yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Pembangunan (atau lebih tepat Kebangunan) GKJW.
June 15, 2008
Posted by simomulyo |
Greja, Kristen Protestan | Dualisme, Era Baru, Kemajuan Zaman, Kepemimpinan, Modernisasi |
Leave a Comment
Upaya menerjemahkan Alkitab dan bacaan rohani lainnya ke dalam bahasa daerah setempat bisa berfungsi ganda: mewartakan kabar baik dengan bahasa yang mudah dipahami sekaligus untuk untuk melestarikan bahasa dari suku tersebut. sayangnya, kerja keras yang telah lama dirintis ini masih kurang mendapat perhatian pemakainya. salah satunya Alkitab dan buku-buku rohani berbahasa Madura.
Jember, Bahana
Ada sesuatu yang khas di lingkungan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), jemaat Sumberpakem di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagian besar jemaatnya dari suku Madura. Gereja ini pun masih menyimpan buku-buku Kristen lama berbahasa Madura. Ada yang tertulis dengan aksara Jawa dan sebagian besar dengan huruf Latin. Sayangnya, buku-buku langka itu kurang terawat. Madura yang kita kenal dengan logatnya yang khas ternyata mendapat perhatian yang cukup besar dari para misionaris. Sejumlah buku kuno seperti Ketab Injil Sotceh see Toles Yohanes, Kejungan Pojian Rohani, dan Tjareta Saratos Empadam telah ditulis Pendeta H. Van der Spiegel tahun 1929. Buku-buku langka yang kurang terpelihara ini tersimpan di lemari gereja. Sebagian lagi disimpan warga desa di kaki Gunung Raung, 30 km timur laut Jember.
Sejak 2003, Pendeta Sapto Wardoyo melayani jemaat Sumberpakem, ia pun sulit membaca buku-buku kuno ini. “Saya sendiri sulit membaca dan memahami buku-buku langka itu,” ujar Pak Lestari (55), seorang warga Sumberpakem. Orang Madura pertama yang memeluk agama Kristen adalah Pak Bing. Ia dibaptis di Bondowoso pada 23 Juli 1882. Tanggal ini kemudian dijadikan tonggak awal berdirinya jemaat Sumberpakem, meskipun peresmian sebagai gereja jemaat baru pada tahun 1900.
Baru Dua Pendeta
Saat ini jumlah warga jemaat suku Madura ada 62 keluarga (254 jiwa) yang berdomisili di Sumberpakem, Paleran, dan Slateng. Jemaat menggunakan Alketab (bahasa Madura) terbitan LAI dan Kejungan Pojian Rohani, terbitan GKJW-VEM Jerman.
Sampai sekarang baru ada dua warga Madura yang menjadi pendeta, yaitu Pak Alpejus Kaeden (almarhum) dan Eliezer Kaeden (emeritus). Sinode GKJW sudah menyiapkan beasiswa bagi anak Sumberpakem yang ingin berkuliah di Fakultas Teologi, UKDW, Yogyakarta.
Di Pulau Madura, GKJW juga memiliki satu jemaat, yaitu jemaat Bangkalan. Hanya saja warganya adalah para pendatang berbagai suku, selain suku Madura. Kebaktian diselenggarakan menggunakan bahasa Indonesia.
Sepuluh Tahun
Proses penerjemahan Alkitab ke bahasa Madura berlangsung dari tahun 1982-1992. Uniknya, penerjemahnya bukan teolog, tapi anggota gereja biasa. Adalah Ny. Cicilia Jeanne d’Arc Hasaniah Waluyo, putri budawayan Madura, almarhum Abdurachman Sastrosubroto yang menerjemahkan Alkitab ini. Waktu itu, Hasaniah berprofesi sebagai guru musik, bahasa Inggris dan agama Katolik di SMP Pamekasan.
Ibu tiga anak ini ditugasi LAI Jakarta pada tahun 1981 untuk menerjemahkannya. Modalnya, selain iman yang kuat juga menguasai bahasa Madura halus. Di kalangan suku Madura, bahasa Madura Sumenep termasuk bahasa tingkat tinggi dan menjadi standar bagi kalangan pelajar. Salah satu kendala proses penerjemahan adalah tempat tinggal penerjemah, peneliti, dan konsultan yang berjauhan.
June 15, 2008
Posted by simomulyo |
GKJW, Greja, Kristen Protestan | Bahasa Madura, Buku Jawa, Buku Langka, Jawa Timur, Sejarah |
Leave a Comment